Dimas Prasidi

Mini Mind of Me

Nasionalisasi sebagai solusi pemulihan krisis global

leave a comment »

Wacana nasionalisasi kembali relevan diangkat guna mencari diskursus solusi atas krisis finansial global yang tengah terjadi saat ini. Gagasan nasionalisasi dapat diimplementasikan dalam keadaan riil jika konteks politik dan sosial suatu negara melakukan akomodasi terhadap prasyarat terbentuknya masyarakat sosialis. Prasyarat terbentuknya masyarakat yang sosialis adalah dengan penghapusan kelas dan penolakan terhadap kekuasaan modal. Nasionalisasi hanya bisa dilakukan jika tidak ada lagi relasi atas-bawah antara buruh dan majikan, nasionalisasi unit produksi akan berjalan dengan mengganti sistem perintah dan eksploitasi dengan sistem koordinasi dan kesetaraan upah. Nasionalisasi bisa terwujud dengan adanya pengabaian terhadap kekuasaan modal, dengan mengesampingkan target keuntungan dan menggantinya dengan distribusi hasil produksi yang merata, menolak bernegosiasi dengan kekuatan modal dan memposisikan diri lebih tinggi dari kekuatan modal dengan dasar kedaulatan negara.
Nasionalisasi sebagai jalan keluar dari krisis global sangat signifikan untuk dilakukan. Krisis global yang berakar dari runtuhnya kekuatan-kekuatan modal primer di sektor finansial AS akibat akibat dari tidak berjalannya sistem distribusi kapitalis yang hendak menyebar modal dan resiko melalui pemberian kredit kepada perusahaan besar pengelola keuangan guna dilempar ke pasar juga sebagai kredit, yang proses pencairannya dipermudah, tanpa kontrol – guna mencapai target keuntungan, sehingga pada akhirnya sistem yang dibangun tersebut runtuh ketika feedback modal dari debitur tersendat satu demi satu akibat penyebaran yang tanpa kontrol, khas kapitalisme. Krisis sektor finansial akan berimbas pada sektor riil, dimana kelas buruh berada. Unit produksi pada sektor riil hampir seluruhnya menggunakan modal yang dimainkan disektor finansial (go public). Jika guncangan disektor finansial terjadi maka lazim apabila terjadi defisit modal di sektor riil, hal ini akan mengakibatkan kebangkrutan dari unit-unit produksi disektor riil yang pada akhirnya merugikan kelas pekerja. Nasionalisasi menawarkan pelepasan unit produksi dari ketergantungan modal yang bisa selalu dimainkan kearah sistem produksi per kebutuhan dan pemerataan distribusi hasil.
Diskursus nasionalisasi bukanlah tawaran utopis. Guna melihat praktek empirik dari nasionalisasi, tepatlah jika menunjuk Venezuela. Chavez memulai revolusi Bolivarian di Venezuela dengan gerakan anti imperialisme dan menuntut politik yang bersih dari korupsi dan penggunaan hasil minyak untuk rakyat. Chavez mulai mengadopsi Sosialisme ketika ketika dia mulai mendapatkan tekanan dari pihak imperialisme modal dalam upaya menahan revolusi yang tengah digagasnya. Setelah mengadopsi Sosialisme, Chavez memulai konfrontasi, bukan saja dengan imperialisme modal tetapi terhadap kapitalisme secara keseluruhan, baik sebagai teori atau praktek. Hal ini ditandai dengan pendudukan pabrik, pendudukan tanah, kekuasaan buruh dan nasionalisasi ekonomi.
Bentuk Konkrit dari nasionalisasi ekonomi adalah dengan pengambilalihan pabrik dan unit produksi. Dalam konteks Venezuela, hal ini dilakukan dengan dua cara; pertama, pembelian unit-unit produksi dari pemiliknya (pemodal) oleh negara, contohnya, nasionalisasi Banco de Venezuela dan Pabrik semen Cemex. Kedua, dengan cara pendudukan pabrik oleh buruh terhadap pabrik yang ditutup sepihak oleh pemiliknya (lock out), hal inilah yang lazim terjadi di Venezuela, diawali dengan pendudukan pabrik-pabrik seperti Invelva, Invelpal dan Alcasa. Dalam perkembangannya, dibentuklah Front Revolusioner Pendudukan Pabrik-Pabrik atau (Frente Revolucionario de Trabajadores de Empresas Ocupadas y en Cogestion (FRETECO). Front ini bertujuan untuk memperluas proses pendudukan dan nasionalisasi industri Venezuela, dan menempatkannya di bawah kontrol buruh. Tujuannya adalah untuk mengembangkan proses yang dimulai pada tahun 2005 dengan pengambilalihan Venepal oleh Presiden Venezuela, dan untuk memperluaskannya ke seluruh industri Venezuela guna membawa sosialisme di Venezuela. Mereka berkeyakinan Hanya kelas pekerja, bersama dengan rakyat, kaum tani dan massa, yang bisa menjalankan alat produksi Venezuela. Selama puluhan tahun, para borjuasi dan kapitalis telah menunjukkan bahwa mereka tidak mampu menyejahterakan rakyat Venezuela. Di bawah sistem kapitalisme, suatu kemajuan tidaklah mungkin. Di bawah kapitalisme rakyat Venezuela hanya bisa menemui kesengsaraan, kemiskinan, dan penindasan imperialis. Satu-satunya cara untuk mengakhiri birokratisme adalah, sebagaimana Presiden Chavez katakan: dengan memberikan kekuasaan kepada rakyat. Dalam kasus pabrik-pabrik dibawah co-manajemen dan kontrol buruh, jawabannya adalah dengan memberikan kekuasaan kepada kaum buruh. Oleh karena itu manajemen dari seluruh perusahaan-perusahaan ini, termasuk para pengelola dan para direktur, harus dipilih melalui suara mayoritas oleh suatu majelis buruh.
Bentuk konkrit dari kekuasaan buruh adalah Dewan Buruh di pabrik-pabrik dan ini terdapat di berbagai dipabrik-pabrik di . Selain itu ada juga Dewan Komunal, sebuah organisasi yang Chavez telah promosikan disetiap komunitas (lingkungan atau kampung), dimana rakyat di dipilih, komite dipilih. ini bisa menjadi embrio dari soviet (Dewan Rakyat).
Nasionalisasi ala Venezuela ini menawarkan jalan lain yang revolusioner guna memulihkan keterpurukan ekonomi nasionalnya yang merupakan warisan dari sistem kapitalisme yang dipakai sebelumnya.

Written by dimasprasidi

November 5, 2008 at 9:58 am

Posted in Opini Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: